Home > Ancient, KaSundaAn > Sunda Highland

Sunda Highland

15/07/2013

Sonny Djatnika Sunda Djaja >>>

Sunda bukan lah etnis melainkan penduduk yang mendiami Sunda Plateu (Sunda Highland), seperti yang masih diteliti oleh para ilmuwan dunia, salah satunya Prof Stephen Openheimer (Eden of The East).

Pemahaman bangsa Sunda yang berarti Cahaya Matahari merupakan kosakata yang dipakai dunia Sun, atau seperti budaya bangsa purba lainnya yang menganut kepercayaan terhadap Dewa Matahari. Penulisan sejarah oleh bangsa Belanda nampaknya punya maksud dengan mengecilkan arti Sunda sebagai etnis kecil di Jawa bagian Barat.

Catatan agamanya pun dibatasi pada animisme dan dinamisme. Namun di dalam catatan animisme (menyembah alam dan leluhur) tersebut ternyata terselip, bahwa itu adalah agama Sunda Wiwitan, yaitu agama dari asal-muasal manusia. Berbagai pemahaman memang kemudian muncul, seperti adanya para dewa. Kesejajaran agama Sunda Wiwitan adalah dengan agama Mesir Kuno dan agama kaum Kaballa (yahudi Kuno) yang menyembah Dewa Matahari. Kelebihan Sunda Wiwitan adalah bahwa di atas dewa masih ada Sang Hyang Kersa (Sang Maha Pencipta), atau Sang Hyang Widhi (Yang Maha Esa).

Ptolemy (150 SM) mencatat adanya bangsa yang hidup di Hindia Timur ini sebagai bangsa yang memiliki budaya, juga catatan bangsa China, yang diperkirakan adalah kerajaan (kaum) yang disebut sebagai penduduk Salakanagara (sampai 350 M).

Bangsa Sunda menunjukkan bangsa dengan agama dinamis, yaitu yang menerima semua budaya agama, mulai Hindu dan Buddha masuk ke dalam agama Sunda Wiwitan, bahkan terhadap ajaran Katholik dan islam, sehingga sebutan Sunda Eslam adalah bagi umat yang menganut totalitas satu ajaran Islam saja. Selain itu ada juga Sunda Buhun. Penganut Sunda Wiwitan dinamakan kaum Baduy, bukan saja dijumpai di daerah banten, melainkan pula masih ada di daerah Timur pulau Jawa dan kemungkinan Sumbawa.

Dalam masyarakat Sunda Eslam, ajaran yang digunakan bukan lah Islamisme atau Arabisme yang dibawa oleh missionaris Gujarat dan Turki (Ottoman), seperti halnya kebanyakan warga Aceh dan warga pulau Jawa bagian Utara. Umumnya, bangsa Sunda belajar dari bangsa aselinya di Timur Tengah, baik di Mekkah mau pun di Baghdad Irak (“Pesantren” Syekh Abdul Qadir Jailani). Bahkan di tanah Islam tersebut, para sufi diperkirakan berasal dari wilayah Tatar Sunda dan Eropa Selatan. Sufi Islam mulai dilarang di Timur Tengah pada abad ke-13). karena dianggap keluar dari islamisme.

meruntut kepada kalender Sunda (masih dipelajari), kalender candrakala (lunar) mungkin sudah digunakan sejak 2500 SM, sedang suryakala (masehi) diperkirakan lebih tua lagi. Apabila benar kalender ini memang sudah ada di jaman itu, artinya, bangsa yang mendiami Kepulauan Sunda ini memang sudah lebih maju pada jaman purba. Tersendatnya kemajuan peradaban, lebih banyak diperkirakan oleh akibat alam yang meruupakan wilayah bencana besar (katastropis)….

Categories: Ancient, KaSundaAn Tags: