Home > Folklore, KaSundaAn > Nyai Sri Pohaci

Nyai Sri Pohaci

27/08/2013

1237012_4817478415364_1944059984_nNyai Sri Pohaci adalah seorang Dewi yg dipercaya menciptakan padi di dunia. Mitosnya bermula ketika Sang Hyang Guru akan membuat dua balai di Bale Bandung. Ia menyuruh Sang Hyang Narada agar memerintah para dewa mencari ramuan untuk membuat balai tersebut.

Dewa Anta (Anta Boga), Dewa berwujud ular naga menangis karena ia tidak memiliki tangan untuk melakukan tugas dari Sang Hyang Guru. Tangisan Dewa Anta tersebut berubah menjadi tiga butir mutiara yang oleh Sang Hyang Narada diperintahkan untuk diberikan pada Sang Hyang Guru.

Dewa Anta membawa ketiga butir mutiara itu di dalam mulutnya dan dalam perjalanannya menemui Sang Hyang Guru, seekor burung elang menanyakan hendak kemana dirinya. Dewa Anta tidak bisa menjawab karena di dalam mulutnya ia menyimpan mutiara. Si burung elang pun marah karena pertanyaannya tidak dijawab, ia menyambar Dewa Anta dan dua dari tiga mutiaranya jatuh ke Bumi, kemdian pecah dan menjadi anak babi yang bernama Kalabuat dan seekor Budug Basu, yaitu binatang setengah anjing dan setengah babi. Satu mutiara lagi berhasil diberikan pada Sang Hyang Guru dan setelah menetas menjadi gadis cantik yang diberi nama Nyai Sri Pohaci atau Nyai Asri.

Kecantikan Nyai Asri membuat Sang Hyang Wenang khawatir Sang Hyang Guru ingin menikahinya, karenanya setelah berbicara dengan Para Dewa yang lain, mereka setuju untuk meracuni Nyai Pohaci. Nyai Pohaci pun meninggal sebagai perawan suci, dan konon, karena kesuciannya dari dirinya tumbuh tumbuh – tumbuhan yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh manusia, yang paling terkenal adalah dari kakinya tumbuh padi.
——————————————————————–

Selain mengenai Nyai Pohaci, Wawacan Sulanjana juga bercerita mengenai menanak nasi. Cerita ini lebih akrab di telinga masyarakat sebagai kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari, namun yang berbeda adalah Nawang Wulan tidak menikahi Jaka Tarub melainkan Raja Padjadjaran. Alkisah Batara Guru mengirimkan Semar untuk memberikan beras pada Kerajaan Padjadjaran untuk dimakan.

Selain Semar, Batara Guru juga mengirimkan Nawang Wulan untuk mengajarkan cara menanak nasi. Alih – alih mengajarkan cara menanak nasi, Nawang Wulan merahasiakan hal ini pada manusia, ia memasukan batang padi pada sebuah alat dari bambu dan jadilah nasi. Raja Padjadjaran yang penasaran mengintip Nawang Wulan meski telah diberi peringatan. Nawang Wulan pun kehilangan kekuatannya untuk menanak nasi secara cepat dan Semar kembali ke bumi untuk mengajarkan cara menanak nasi yang lebih rumit yang merupakan cara menanak nasi tradisional.

Sulanjana merupakan seorang pelindung padi, yang dimaksud dengan melindungi padi adalah melindungi padi dari ancaman hama seperti celeng, tikus, dan serangga. Hal ini dikarenakan kisahnya Prabu Siliwangi enggan menjual beras pada Dampo Awang dari Kerajaan Seberang karena beras di leuitnya dianggap suci. Dampo Awang menyuruh Sapi Gumarang untuk mencari Budug Basu dan Kalabuat yang sebelumnya mati di makam saudarinya, Sri Pohaci karena mereka ingin bersama – sama saudarinya. Ketika Budug Basu dan Kalabuat ditemukan dan dibawa keliling dunia, tubuh mereka berubah menjadi serangga, tikus dan celeng yang sampai sekarang dikenal sebagai hama padi. Sulanjana yang dibesarkan oleh Dewi Pertiwi (Pravati atau Ibu Bumi) mencari Sapi Gumarang dan ketika hendak dibunuh, Sapi Gumarang memohon ampun. Sebagai balasan atas tindakannya, Sapi Gumarang harus membayarnya dengan membantu Sulanjana merawat padi dan kemudian Sapi Gumarang berubah menjadi kerbau yang dikenal sebagai pembantu untuk membajak sawah.

Orang Sunda percaya padi adalah bentuk kasih sayang Nyai Pohaci terhadap mereka, sementara Sulanjana mengasihi Orang Sunda dengan melindungi padi dari hama dan Semar rela turun ke Bumi untuk mengajarkan manusia bagaimana menanak nasi. Oleh karenanya, sebagai wujud rasa syukur pada Yang Kuasa, ritual – ritual yang bersangkutan dengan pertanian ada di berbagai daerah meski seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya Agama Islam, tradisi – tradisi ini mulai terkikis terkecuali bagi kelompok masyarakat tertentu yang masih memegang teguh kepercayaan Sunda Lama (Sunda Wiwitan).

Di Rancaekek terdapat sebuah tradisi yang disebut Tarawangsa yang merupakan Upacara Nyalin atau Ngiriman, yaitu upacara penghormatan pada Dewi Sri atau Kersa Nyai dan doa agar padi mereka tidak diganggu hama dan selalu melimpah panennnya. Dalam upacara ini para ronggeng ditanggap. Ronggeng memang selalu diidentikan dengan erotisme, namun bukan tanpa arti. Hal ini dianggap wajar karena erotisme juga merupakan bagian dari penciptaan kehidupan. Wanita – wanita muda pun menyimbolkan kesuburan, sesuatu yang sangat diharapkan petani pada tanah yang digarapnya.

Categories: Folklore, KaSundaAn